Selintas Pembelajaran Berbasis Produksi

Kategori Berita

Nilam,Drs.S.H - Kamis,01 Maret 2018


Sering diimpikan oleh masyarakat ketika menghadapi peledakan pengangguran di satu sisi, di sisi lain banyak lowongan kerja yang tak terisi. Hasil analisis yang ditemukan antara lain: Rendahnya mutu pendidikan (kejuruan), rendahnya kemampuan ber-entrepreneur, tidak tahan bekerja di bawah tekanan dll.

Rendahnya mutu pembelajaran(kejuruan?)

Secara konsep, hasil sebuah proses pembelajaran dapat dilihat kurikulum berikut rinciannya. Yang dimaksud dengan kurikulum di sini apa-apa yang dipembelajarkannya, yang akan menentukan hasilnya tidak lain ialah 'kurikulum apa-apa yang dipelajari' namun akan menjadi lebih bermakna mutu ialah 'kurikulum dari hasil kelulusan siswanya' artinya materi atau hal-hal apa yang dipelajari, dipahami, serta menjadi perilaku oleh siswa-siswanya. Guru selaku pembimbing siswa ketika belajar mestinya sadar dan paham benar akan materi pembelajaran, cara mana yang paling mudah untuk dipahami, disikapi dan dilakukan(menjadi perilaku/budaya) oleh siswanya agar apa-apa yang dikuasai siswa dalam ketiga aspek psikologi belajar(kognisi, sikap dan motorik) termasuk apa-apa yang dipelajari secara mandiri ini benar-benar menunjukkan mutu yang diharapkan oleh visi sekolah sebagai SMK yang unggul.

Uraian di atas menunjuk kepada guru bukan terpaku dengan apa-apa yang dimuat di dalam 'kurikulum dokumen', guru harusnya memiliki keleluasaan dalam hal :(1) menafsirkan substansi kurikulum dokumen secara ilmiah, aplikasi, empirik, dan diterima oleh masyarakat dan pemangku kepentingan lain secara obyektif;(2) menetapkan 'luasan' dan 'kedalaman' substansi pembelajaran; (3) menetapkan metodologi pembelajaran yang pas yang menarik, menyenangkan dan mampu memotivasi serta menggerakkan siswa untuk mengembangkan kognisi, sikap dan ketrampilan siswa secara mandiri ketika berada di luar ruang pembelajaran yang terjadwal jadi lebih dari yang diharapkan oleh institusi smk. (4) melakukan evaluasi secara luas, mendalam, obyektif dan mengembangkan kriteria ketuntasan pembelajaran serta menerapkannya secara kuantitatif dan kualitatif. Cara terakhir akan lebih tepat jika dilakukan dengan mendorong dan memfasilitasi siswa jika pembelajaran berbasis produksi.

Pembelajaran Berbasis Produksi, artinya siswa diberikan keluasan melakukan eksplorasi terhadap fenomena yang riil di masyarakat sebagai subyek pembelajar. Pengalaman empirik selanjutnya dimodifikasi dalam format-format sesuai aspek psikologi pembelajaran kemudian menjadi bahan analisis/kajian siswa secara klasikal, secara menarik, bermanfaat untuk masa kini dan masa yang akan datang. Dalam hal ini memungkinkan mampu mengembangkan modifikasi produk bahkan mengembangkan kualitas dalam menghadapi 'kompetitif stage'.

Pengevaluasian individu dan kelompok dengan materi yang fleksibel(luasan dan kedalaman) dan preskriptif serta dengan penggunaan bahasa 'inquiry' akan menghasilkan kriteria yang dinamis.

Berita Terbaru

Arsip Berita

Video Terbaru

Arsip Artikel