Pendidikan Di Tengah Hiruk Pikuknya Hoax

Kategori Berita

Nilam,Drs.S.H - Kamis,01 Maret 2018


Pendidikan sebagai kegiatan sadar untuk menanamkan moral dan budaya masyarakat yakni nilai-nilai Pancasila, lingkungan peserta didik bukanlah ruang hampa, melainkan lebih kental dalam interaksi dan komunikasi dalam masyarakat dengan segala budaya dan nilainya. Informasi sebagai media pendidikan. Informasi yang akhir-akhir ini sangat 'deras'-nya adalah informasi yang dibuat dan diedarkan melalui media massa, yang justeru lebih dekat dan lebih intens masuk ke ruang peserta didik. Ketika informasi itu dibuat oleh oknum masyarakat yang mengabaikan nilai-nilai budaya/moral Pancasila, inilah selanjutnya dikenal dengan 'hoax'. Informasi hoax bisa dikategorikan informasi yang mengandung "kebohongan" telah tercampur dengan informasi  yang mengandung "kebenaran" sebegitu homogen sampai-sampai peserta didik sulit membedakan antara 'benar' dan 'bohong'. Kondisi seperti terakhir inilah menjadi keprihatinan sekaligus menjadi tantangan berat dalam pendidikan, bukan saja menjadi hambatan melainkan menjadi tantangan yang tidak ringan bagi para pelaku pendidikan di negeri ini. Lebih-lebih ketika sekolah mendorong siswa untuk mengeksplor fenomena di media sosial untuk memperkaya khasanah kejadian riel di masyarakat. Di sini guru harus menguras tenaga ekstra untuk mendampingi siswa agar tidak terpengaruh hoax.

 

 

Salah satu langkah yang dapat diambil sekolah, tiap guru harus menyusun materi ajar dalam buku referensi siswa, yang sekiranya esensi buku lebih menunjang pembelajaran, sekaligus menjadi referensi wajib yang juga mampu memberi kejelasan tentang informasi-informasi dan membendung pengaruh hegatif hoax yang bertaburan di medsos. Terlebih lagi mengatasi kesulitan siswa sekolah kejuruan mendapat buku referensi yang sangat mereka perlukan untuk mempertajam pengetahuannya. Tentu saja program ini akan menguras anggaran, namun tidak kesuksesan tanpa pengorbanan.

 

Ketika pembelajaran dipandang sebagai kegiatan belajar renang, maka air di sekitar anak telah tercemar racun. Langkah yang dapat diambil pengelola sekolah tidak lain menguras seisi kolam, dan menggantikan dengan air yang bersih. Namun ketika di air sungai, kita atasi dengan membebaskan air di hulu tidak tercemar. Selebihnya jika yang beracun adalah air laut, maka gerakan masal untuk mengatasinya, yakni menanamkan kesadaran para pemangku kepentingan untuk tidak meracuni air.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berita Terbaru

Arsip Berita

Video Terbaru

Arsip Artikel