Daun sebagai Alternatif Media Lukis

Kategori Berita

Luqman Trip Umiuki - Kamis,01 Maret 2018


Pameran SeniRupa

SMK Yuppentek 2

 

Daun sebagai media (bahan) untuk melukis? Sebagaimana cat yang digunakan para perupa untuk melukis di atas kanvas? Ya: daun. Daun yang harus digerilya dulu dari kebun ke kebun, dari halaman ke halaman, dari taman ke taman. Setelah diproses tahap demi tahap barulah digunakan untuk melukis—dengan teknik kolase menggunakan lem putih—di atas kanvas atau apa saja, tetapi diutamakan: gerabah. Lukisan seni terapan menggunakan gerabah ini cenderung unik, dan tentu saja menarik. Kelak, kian tua kian serupa barang antik.

Karya itulah yang digelar di pameran yang diselenggarakan dalam rangka mensyukuri hari jadi ke-50 Yayasan Usaha Peningkatan Pendidikan Teknologi (Yuppentek). Pameran seni rupa karya siswa kelas XII SMK Yuppentek 2 ini disajikan berkait dengan pembelajaran seni budaya (baca: seni rupa). Karyanya sudah dipersiapkan sejak Oktober 2017.

 

Tema

 

Daun sebagai alternatif media lukisan

 

Waktu dan Tempat Penyelenggaraan

 

Pameran diselenggarakan 24 Januari s.d. 10 Februari 2018 di aula SMK Yuppentek 2.

 

SMK Bisa

 

Pameran seni rupa lazim dikenal sebagai kegiatan mengomunikasikan karya guna diapresiasi oleh masyarakat luas, baik dalam konteks tujuan sosial atau pun komersial. Gelaran yang sangat penting sehubungan dengan peningkatan kuantitas dan kualitas karya perupa.

Sebagaimana lazimnya, manfaat pameran itu diupayakan mengacu kepada kemampuan siswa dalam mengapresiasi karya sekaligus menambah wawasan dan dan kemampuan dalam mengevaluasi karya secara objektif. Penyelenggaraannya bermanfaat untuk melatih kerja kelompok dan bekerja sama dengan penuh rasa tanggung jawab. Lebih dari itu, tentu saja juga berguna untuk membangkitkan motivasi dan gairah dalam berkarya; dalam hal ini bukan sekadar berkarya dalam konteks kesenirupaan, tetapi berkarya dan berkarya apa saja dalam hidup dan kehidupan. Dalam hal ini SMK Bisa dimaknai sebagai pemersiapan siswa sebagai manusia yang siap berkarya. Punya kebanggaan kerana punya karya.

 

‘P’ dan ‘p’ Pameran

 

Di samping hal di atas, prosesi pameran diharapkan dapat juga meluruhkan kejenuhan belajar di kelas selain menjadi ajang berorganisasi dengan melakukan perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pameran.

Namun, pameran—yang dalam hal ini lebih tepat disebut studi pameran—digelar dengan displai seadanya dan sekadarnya. Sekadar mengisi celah ruang di tepi barat. Demikian adanya karena pameran tidak mungkin memonopoli ruang aula yang waktu penyelenggaraannya bersamaan dengan padatnya frekuensi penggunaan aula untuk berbagai kegiatan sekolah.

 

Tercitakah Tujuan Pameran?

 

Pameran (boleh dibaca: studi pameran) digelar guna mendapatkan apresiasi dan tanggapan dari pengunjung pameran. Hal yang penting guna peningkatan rasa percaya diri dan gairah siswa dalam berkarya selain bertambahnya wawasan siswa. Evaluasi atas karya siswa menjadi lebih greget kerana penilaiannya diklimakskan sebagai uji kompetensi seni rupa.

Dari 158 karya yang tersaji tersirat perjuangan yang tidak sederhana. Sebelum berkarya siswa harus berburu daun dari kebun ke kebun, dari halaman ke halaman, dari taman ke taman. Berburu?

Ya “berburu”. Tidak semua daun praktis dapat menjadi media lukisan. Hanya daun tua yang tidak bertulang keras dan tidak “licin” yang dapat dimediakan. Ini bukan perkara gampang kerana banyak hunian yang tidak lagi punya halaman. Kalau toh ada tidak ramah dengan tumbuhan. Itu saja?

Daun-daun itu diproses dulu; dijerang, ditiriskan, dan “diseterika”. Setelah siap barulah murid dapat melukis tahap demi tahap. Tidak dapat selesai dalam sekali duduk. Karya baru selesai setidaknya dalam lima tahap dengan rentang waktu sekitar satu minggu hingga satu bulan. Untuk karya tertentu dapat berbulan-bulan.

Para murid diharapkan dapat menikmati prosesnya. Itulah hidup. Tidak instan. Melalui perjuangan panjang. Proses demi proses. Trial and error. Jatuh bangun dan lagi dan lagi. Hingga... pada akhirnya... mencecap kebahagiaan setelah merengkuh hasilnya: karya. Selesai?

Bermula dari basmallah insyaallah semuanya menjadi ibadah.

 

Gong

 

Karya memang digelar sekadarnya di meja tanpa papan panel, setumpu, dan beragam properti yang biasa digunakan dalam pameran. Tanpa katalog, bunga hias, dan musik. Bahkan tanpa gong dan bla bla bla pembukaan dan penutupan. Akan tetapi, murid sudah mendapatkan kepuasaan batin berburu dan berkarya. Karyanya menjadi simbol perjuangan dalam merengkuh kesuksesan

 

 

Curug, Februari 2018

Berita Terbaru

Arsip Berita

Video Terbaru

Arsip Artikel